PMII Jaksel Mengecam Aparat Kepolisian: Demokrasi Melayangkan Nyawa

 


INVESTIGASINEWSCOVER.COM

JAKARTA- Tragedi kemanusiaan dalam demonstrasi kembali terjadi. Salah satu anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Diego Zidan Maulana, kader PMII dari Universitas Jakarta yang tertembak peluru karet saat berdemonstrasi di depan Mako Brimob, Jakarta Pusat pada Jumat (29/09/2025).


Padahal sehari sebelumnya kasus amoral juga terjadi terhadap salah satu ojek online, Affan Kurniawan yang berujung meninggal dunia karena ditabrak mobil taktis brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.


Dari hal tersebut PMII Jakarta Selatan melalui Ketua Cabang, Muh Asdar Prabowo mengecam dan mengutuk tindakan Amoral yang dilakukan aparat tersebut


“Ini merupakan tindakan amoral yang sangat mencederai kemanusiaan. Padahal aksi demonstrasi bagian dari prinsip demokrasi yang dilindungi konstitusi”. Ujarnya


Kemudian Ketua PMII Jakarta Selatan mengatakan bahwa kepolisian harus mengusut tuntas kasus ini secara transparan serta meminta pertanggungjawaban institusi Polri atas demokrasi yang ditukarkan dengan nyawa rakyat.


“Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa demokrasi di Indonesia berada di titik nadir. Demokrasi melayangkan nyawa, dan itu alarm bahaya bagi bangsa ini”. Tegasnya


Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ini merupakan tragedi yang sangat memprihatinkan di republik ini. Polisi yang bertugas sebagai keamanan, penertiban, dan pengayom hanya menjadi sekedar simbol semata berbanding terbalik dengan realitas.


“Tragedi ini merupakan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh polisi sekaligus bukti kegagalan negara dalam menjaga rakyatnya. Tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan kekerasan aparat hingga merenggut nyawa warga negaranya. Ini soal moral dan kemanusiaan yang tidak bisa dikompromikan”. Ucap Muh Asdar Prabowo


“Di lain hal mari kita mendoakan saudara kita yang gugur dalam perjuangan sekaligus mendoakan seluruh saudara-saudara kita yang sedang dirawat karena luka atas perilaku represif aparat pada saat demonstrasi” tutup Muh Asdar Prabowo


Kemudian PMII Jakarta Selatan menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Pembunuhan terhadap massa aksi adalah kejahatan terhadap demokrasi. Negara yang membiarkan rakyatnya dibungkam bukanlah negara hukum, melainkan negara penindas.

2. Aparat keamanan harus bertanggung jawab penuh. Penyelidikan tidak boleh sekadar formalitas; aktor lapangan hingga pengambil keputusan di tingkat elit harus diadili secara terbuka.

3. Kami menolak segala bentuk impunitas. Jika negara gagal menegakkan hukum, maka rakyat berhak menuntut keadilan dengan segala cara yang sah menurut konstitusi.

4. Kami menyerukan solidaritas luas. Luka satu orang adalah luka seluruh rakyat. Diam berarti setuju, dan diam berarti membiarkan pembunuhan kembali terjadi.

5. Kami mendesak reformasi aparat keamanan secara menyeluruh. Kekerasan sistematis terhadap rakyat hanya bisa dihentikan dengan pembenahan struktural, bukan sekadar permintaan maaf. ( Achmad Hidayat)


Sumber Rilis :  Muh. Asdar Prabowo PMII Cabang Jakarta Selatan

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama